Well, untuk post yang serius ini kata ganti yang akan digunakan adalah saya. Inspirasi, dan bahan-bahan postingan ini berasal dari khotbah sebelum solat Jumat di Masjid Salman tanggal 30 September 2011.
Sebelumnya perlu diperhatikan, pada postingan ini, baik secara implisit atau eksplisit saya tidak menyinggung kelompok, ras, golongan dan agama tertentu. I am free man.
Tentunya rekan-rekan masih ingat bom bali pertama yang terjadi (kalo ga salah) pada tanggal 20 Oktober 2002, kan? Beberapa tersangka kasus teror tersebut--yang sudah dieksekusi--adalah Amrozi dan Ali Ghufron.
Pada saat mereka berdua masih di sel, banyak wartawan yang sempat mewawancarainya. Namun, ada satu informasi wartawan yang sangat menarik untuk disimak. Saya tidak tahu dari mana wartawan itu berasal dan berapa jumlahnya. Secara garis besar, informasi tersebut adalah sebagai berikut :
"Ketika Ali Ghufron ditanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada saat D-Day pengeboman, dia mengakui bahwan dirinya hanyalah sosok yang dipercaya untuk membuat bom dan melakukan eksekusi di TKP oleh sekelompok orang (tidak jelas siapa). Ali kemudian mulai merakit bom dari PETASAN dan BELERANG. Pada saat sedang menyusun bom di dekat lokasi pengeboman, dia mendengar suara dentuman bom yang sangat keras. Dia berpikir mungkin itu ulah rekannya, Amrozi. Namun, kenyataan yang mengejutkan adalah : Amrozi mengakui bahwa ia juga mendengar suara dentuman tersebut"
| C-4 Bomb |
Pengamat bom asal Australia (lupa namanya) sempat mempelajari kasus terorisme ini. Pada akhirnya dia menyimpulkan : "It is impossible for handmade bomb which is derived from sulphure to have an explosion as big as the Bali's had. They only can make that explosion with C4 bomb, or TNT"
Ya, memang jika kita tinjau kembali dengan kenyataan di lapangan, agak mengherankan mengetahui bom rakitan tangan mampu meledak sebegitu dahsyat dan membakar banyak bangunan dalam satu blok. Korban tewas pun sangat mencengangkan jumlahnya, yaitu sekitar 200 orang.
Tim Pembela Muslim yang pesimis dengan keputusan penangkapan Amrozi cs sempat menantang pemerintah untuk memaksa Amrozi cs untuk membuat bom yang sama dahsyatnya dengan Bom Bali 1 dengan bahan-bahan yang disaksikan. Namun tantangan ini nampaknya tidak terealisasi.
Oke, mungkin rekan-rekan sekalian menduga bahwa penuturan Ali Ghufron bisa saja dimanipulasi. Tetapi bila kita tinjau bomnya, kita akan menemukan banyak keanehan.
Kita banyak menemui kasus terorisme berupa bom bunuh diri yang menggunakan bom rakitan. Namun, tidak ada dari banyak kasus itu yang memiliki daya hancur sebesar kasus Bom Bali 1. Jika para teroris tersebut tergabung dalam satu jaringan, mengapa mereka tidak meledakkan bom yang sedahsyat bom Amrozi? Dan bila para teroris tersebut berbeda jaringan, tetapi tetap satu misi, mengapa teknologi tersebut tidak disebarluaskan?
Kesimpulannya, ada dalang dibelakang aksi Amrozi cs. Dalang yang mungkin juga berperan dalam brainwashing kelompok militan yang mengatasnamakan Islam. Siapa dalang tersebut? Yang jelas dia, atau mereka, memiliki maksud tertentu, berpandangan luas, memiliki peran penting di negara, atau dunia.
Just that. I hope this post will improve our awarenesses.
Bandung, 30 September 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar